Mari Belajar

Desember 4, 2014 - Leave a Response

AKTIVITAS BELAJAR DI RUMAH

By: Ilham

Kegiatan belajar di rumah adalah merupakan tugas dan tanggung jawab seorang siswa. Oleh karena itu, sukses tidaknya belajar tergantung pada cara siswa dalam belajar. Setiap siswa perlu mengetahui, memahami, dan menerapkan cara belajar di rumah yang efektif, sehingga hasilnya dapat meningkatkan prestasi belajar yang maksimal. Aziz Purwanto mengemukakan beberapa prinsip yang dapat dijadikan pedoman dalam belajar efektif, yaitu:
1. Belajar memerlukan dorongan atau motivasi, ada dua macam dorongan yaitu dorongan dari luar seperti adanya jadwal/time tabel di rumah, aturan yang ketat dalam kegiatan belajar, peranan orang tua dalam mengawasi anaknya dalam belajar, pengaruh teman, lingkungan masyarakat, dll. Sedang dorongan dari dalam diri sendiri yaitu suatu keinginan yang didasari oleh kesadaran untuk mengetahui, mengerti, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, berupa keinginan belajar yang dipengaruhi contoh kemauan berusaha untuk mendapat nilai yang baik/rangking, nilai rapor yang baik
2. Belajar memerlukan pemusatan perhatian/konsentrasi terhadap apa yang sedang kita pelajari.
3. Mencari cara termudah untuk memahami sesuatu dengan hafalan, yaitu dengan membuat ringkasan, resume, catatan kecil.
4. Mengulang apa yang telah didapat di sekolah di pelajari lagi sesampainya di rumah.
5. Kita harus yakin apa yang dipelajari akan bermanfaat untuk masa sekarang dan yang akan datang.
6. Belajar jangan terforsir harus diimbangi dengan istirahat sehingga tidak terlalu lelah.
7. Apabila menemui kesulitan maka hendaknya jangan malu bertanya kepada orang yang lebih tahu yaitu pada guru, teman.

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan siswa ketika belajar di rumah, yaitu mengulangi pelajaran, membuat resume, mengerjakan latihan dan PR serta belajar kelompok.
1. Mengulang pelajaran
Setelah siswa menerima bahan pelajaran di sekolah hendaknya diulang kembali di rumah, karena tidak semua penjelasan yang diberikan oleh guru waktu di sekolah dapat tersimpan dalam otak dengan baik. Mengulang pelajaran di rumah merupakan usaha untuk memperdalam dan mendapatkan pengertian tentang konsep materi pelajaran dengan baik. Di samping itu, mengulang pelajaran merupakan salah satu cara untuk memperkuat ingatan terhadap materi yang telah dipelajari. Karena pada prinsipnya proses belajar sangat berhubungan dengan ingatan. Sebab “ingatan adalah bukti bahwa seseorang telah belajar” Supriadi mengemukakan tentang aspek yang berhubungan dengan ingatan yaitu:
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan. Kecakapan menerima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapa pun juga: bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.

Kemudian agar berbagai hal dapat diingat dengan baik, maka harus dilakukan pengulangan-pengulangan. Supriadi menyatakan sebagai berikut:
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya.
Kemampuan reproduksi, yakni pengaktifan atau proses produksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tantangan dunia sekitar.

Berdasarkan hal tersebut, kegiatan mengulang materi pelajaran di rumah merupakan hal yang sangat penting di lakukan oleh setiap siswa. Adapun tujuan yang diharapkan dengan mengulang pelajaran dapat menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari dan menanamkannya dalam ingatan sehingga tidak mudah dilupakan. Dalam hal ini M. Dalyono mengemukakan:
Sesuatu yang dipelajari perlu di ulang agar meresap dalam otak, sehingga dikuasai sepenuhnya dan sukar dilupakan. Sebaliknya belajar tanpa diulang hasilnya akan kurang memuaskan. Bagaimanapun pintarnya seseorang harus mengulang pelajarannya atau berlatih sendiri di rumah agar bahan-bahan yang dipelajari tambah meresap dalam otak, sehingga tahan lama dalam ingatan. Mengulang pelajaran adalah salah satu cara untuk membantu berfungsinya ingatan.

Salah satu teknik belajar dengan cara mengulangi bahan-bahan pelajaran bisa dilakukan dengan cara membandingkan bahan pelajaran yang diberikan oleh guru di sekolah dengan buku paket. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan tingkat pemahaman. Biasanya penjelasan guru yang belum jelas akan menjadi jelas dengan bantuan buku paket yang berhubungan dengan pokok masalah yang diulang dalam belajar sendiri.
2. Membuat resume bahan pelajaran
Bagian kegiatan yang tidak kalah pentingnya dari semua kegiatan belajar bagi seorang pelajar adalah membuat resume atau ikhtisar. Kegiatan ini dilakukan setelah selesai membaca suatu buku pelajaran. Manfaat dari membuat resume atau ikhtisar adalah memudahkan dalam menghafal atau mengingat sesuatu, waktu akan lebih efisien dalam belajar, lebih cepat menguasai bahan pelajaran serta mudah dibawa ke mana saja. Tentang pentingnya membuat resume, M. Dalyono menyatakan:
Banyak orang yang merasa terbantu dalam belajarnya karena menggunakan ikhtisar-ikhtisar materi yang dibuatnya. Ikhtisar atau ringkasan ini memang dapat membantu kita dalam hal mengingat atau mencari kembali dalam buku untuk masa-masa yang akan datang. Untuk keperluan belajar yang intensif, bagaimana pun juga hanya membuat ikhtisar belum cukup. Sementara membaca, pada hal-hal yang penting kita beri garis bawah (underlining). Hal ini sangat membantu kita dalam usaha menemukan kembali material itu di kemudian hari.

Dengan membuat resume hal yang dipelajari akan lebih ringkas dan dapat menganalisis berbagai masalah atau hal-hal penting yang harus diingat. Ini membantu untuk mengerti apa yang sebenarnya atau memahami pelajaran yang dipelajari, dengan demikian otak akan terlatih untuk menganalisis sebuah permasalahan dan menemukan bagaimana mengatasinya. Berbeda dengan sekedar menghafal, tanpa tahu apa yang sebenarnya, ini tidak akan berlangsung lama dan sebelum selesai menghafal seluruhnya, hafalan yang pertama sudah lupa lagi.
Beberapa pegangan yang dipergunakan untuk membuat resume yang baik dan teratur adalah sebagai berikut :
a. Lakukan survei sekilas, yaitu bukalah buku pelajaran mulai dari judul, kata pengantar, daftar isi, abstrak, dan bagian pembahasan.
b. Bacalah isi buku keseluruhan beberapa kali untuk mengetahui kesan umum dan maksud dari isi buku.
c. Mencatat gagasan utama atau hal-hal yang dirasa penting dan berilah garis bawah. Karena hal ini yang akan menjadi sumber resume.
d. Susunlah catatan yang dianggap penting menjadi sebuah resume. Dalam menulis resume kata-kata dan kalimatnya tidak mesti harus sama dengan yang di buku, yang penting maksud dan tujuannya tidak berubah.
Dengan demikian, membuat resume bahan pelajaran sangatlah bermanfaat sekali dilakukan, karena dapat meningkatkan kemampuan dalam mengingat dan menguasai bahan pelajaran yang dipelajari. Sebab, pada dasarnya bukan hanya satu bahan pelajaran saja yang perlu diingat tetapi semua mata pelajaran yang dipelajari di sekolah. Sedangkan tidak semua pelajaran dapat diingat dengan baik.
3. Mengerjakan latihan dan tugas PR
Selain membaca dan menghafal, siswa juga sangat dianjurkan untuk belajar mengerjakan latihan. “Pengertian latihan dalam hubungan mengajar dan belajar adalah suatu tindakan/perbuatan pengulangan yang bertujuan untuk lebih memantapkan hasil belajar.” Tentang pentingnya latihan sebagai salah satu aktivitas belajar, M. Dalyono menyatakan:
Latihan atau praktek adalah termasuk aktivitas belajar. Orang yang melaksanakan kegiatan berlatih tentunya sudah mempunyai dorongan untuk mencapai tujuan tertentu yang dapat mengembangkan sesuatu aspek pada dirinya. Orang yang berlatih atau berpraktek sesuatu tentunya menggunakan sikap tertentu sehingga setiap gerakan atau tindakannya terarah kepada suatu tujuan.

Di samping itu, siswa juga harus mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah yang diberikan guru. Tugas atau pekerjaan rumah tidak hanya menolong siswa belajar mengenai subjek yang dipelajarinya di sekolah, tapi juga merupakan salah satu cara untuk mengembangkan rasa tanggung jawab pada diri siswa. Artinya, dengan mengerjakan PR, siswa jadi belajar bagaimana caranya mengatur dan mengalokasikan waktu untuk suatu tugas dan bagaimana ia harus menyelesaikan tugas tersebut dengan rapi serta benar. Lewat PR pula siswa akan mendapatkan pengalaman belajar yang lebih positif.
Namun demikian, sering terjadi bahwa sebagian besar siswa malas mengerjakan PR yang diberikan guru. Hal tersebut mengakibatkan PR tersebut diselesaikan ketika waktu sudah mendesak dan otak tak lagi jernih digunakan untuk berpikir. Oleh karena itu sangat diperlukan berbagai cara yang dapat membangkitkan motivasi siswa dalam mengerjakan PR. Berikut beberapa cara membangkitkan motivasi mengerjakan PR yang dikutip dari sebuah artikel berjudul 6 Jurus Membangkitkan Motivasi Mengerjakan PR, secara singkatnya sebagai berikut:
a. Menetapkan tujuan belajar untuk diri sendiri
b. Membuat jadwal tetap
c. Merancang waktu untuk menyelesaikan PR bersama teman
d. Mengerjakan PR yang paling tidak disukai terlebih dahulu
e. Meminta bantuan orang tua
f. Selalu berpikir positif.
4. Belajar kelompok
Cara yang baik untuk menunjang keberhasilan studi di sekolah adalah membentuk kelompok belajar. Dengan belajar kelompok diharapkan dapat mengurangi rasa bosan dan jenuh dalam belajar. Belajar kelompok biasanya dilakukan di rumah tapi bisa juga dilakukan di tempat yang lain misalnya: di perpustakaan, di sekolah, atau di tempat-tempat tertentu yang sudah disepakati bersama. Ada beberapa manfaat penting dari belajar kelompok, yaitu:
1. Belajar dengan membentuk kelompok belajar sendiri dapat memotivasi semangat belajar antara teman satu dengan lainnya.
2. Saling berbagi informasi dan pengetahuan antara teman. Teman yang pandai dapat mengajari dan menularkan kepandaiannya kepada teman lainnya.
3. Membangun komunikasi timbal balik dengan adanya diskusi.
4. Bekerjasama menyelesaikan PR sekaligus bersosialisasi di luar sekolah.

Kemudian dalam sebuah artikel berjudul Konsep Belajar Mandiri, disebutkan beberapa alasan kebutuhan belajar kelompok, sebagai berikut:
Kemampuan seseorang untuk memahami suatu materi yang sedang dipelajarinya dapat dipengaruhi oleh hubungannya dengan orang lain. Alasan kebutuhan belajar berkelompok ini bisa bermacam-macam, seperti:
1. agar termotivasi untuk belajar, karena kelompok yang kuat biasanya akan saling memotivasi untuk belajar;
2. lebih mudah memahami suatu informasi/pengetahuan, karena anggota dalam kelompok saling mengisi dalam belajar;
3. adanya mata pelajaran tertentu yang menuntut belajar dalam kelompok sebagai bagian dari kegiatan atau tugas belajar.

Belajar kelompok pada dasarnya memecahkan persoalan secara bersama-sama. Artinya setiap orang dituntut memberikan sumbangan pikiran dalam memecahkan suatu permasalahan. Dalam belajar kelompok dapat dibahas pelajaran yang belum dipahami oleh semua atau sebagian anggota kelompok belajar baik yang sudah dijelaskan guru maupun belum dijelaskan guru. Diskusi merupakan cara yang paling baik dalam belajar kelompok. Dalam hal ini Azis Purwanto mengemukakah beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan belajar kelompok, yaitu antara lain :
a. Bentuklah kelompok belajar dengan mempertimbangkan jarak tempat tinggal anggotanya, jangan terlalu jauh sehingga memerlukan transpor yang lama dan melelahkan.
b. Menunjuk salah seorang sebagai ketua kelompok yang bertugas memimpin kelompok dalam mempelajari materi pelajaran.
c. Bahaslah masalah atau materi dengan berdiskusi saling mengemukakan masalah, argumen, pendapat sesuai dengan pendapat masing-masing peserta kelompok kemudian diambil kesepakatannya.
d. Buatlah ringkasan, kesimpulan hasil dari diskusi itu dan dibacakan kembali sehingga apabila ada yang belum jelas dapat segera dibahas kembali.
e. Sebaiknya dalam membentuk kelompok belajar hendaknya dalam jumlahnya yang ganjil, contoh 3,5,7 orang dan jangan terlalu banyak, apabila ternyata jumlahnya banyak maka hendaknya dipecah menjadi beberapa kelompok kecil lagi sehingga efektif.

Berdasarkan hal tersebut, belajar kelompok merupakan salah satu cara yang efektif dalam belajar di rumah. Hal tersebut dapat terjadi jika semua anggotanya terlibat aktif dan menghindari berbagai hal yang dapat mengganggu kegiatan tersebut.

METODE PEMBELAJARAN

April 5, 2009 - Leave a Response

Metode dalam Pembelajaran

Oleh: Ilhamnorrahman, S.Pd.I.

Metode pembelajaran adalah cara yang digunakan oleh pengajar dalam menyampaikan pesan pembelajaran kepada peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengajar atau guru harus dapat memilih metode yang tepat yang disesuaikan dengan materi pelajaran agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran mungkin dapat dikatakan tepat untuk suatu pelajaran tetapi belum tentu tepat untuk pelajaran yang lainnya, untuk itu guru haruslah pandai dalam memilih dan menggunakan metode-metode pembelajaran mana yang akan digunakan dan disesuaikan dengan materi yang akan diberikan dan karakteristik siswa. Dalam hal ini Seotonomo menyatakan:
Metode yang tepat untuk salah satu tujuan pengajaran (pembelajaran) atau bahan pengajaran belum tentu untuk tujuan dan bahan pengajaran (pembelajaran) yang berbeda. Sehingga pemilihan metode mengajar merupakan spesifik pada interaksi belajar mengajar tertentu.

Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru bahasa Indonesia harus dapat mengombinasikan bermacam metode dalam menyampaikan materi pembelajaran. Abdul Haris Ishaq. S. S, dalam hal ini menyatakan bahwa, “metode pengajaran bahasa Indonesia tidak dapat menggunakan satu metode karena bahasa Indonesia sendiri yang bersifat dinamis. Bahasa sendiri bukan sebagai ilmu tetapi sebagai keterampilan sehingga penggunaan metode yang tepat perlu dilakukan.”
Metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran turut mempengaruhi cara siswa belajar. Dengan kata lain bahwa cara siswa belajar tergantung metode yang diterapkan guru dalam pembelajaran. Untuk itu harus dipilih metode aplikatif dan menarik. .Dalam hal ini Abdul Haris Ishaq. S.S., mengemukakan bahwa:
Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar / madrasah ibtidaiyah sangat mengandalkan penggunaan metode-metode yang aplikatif dan menarik. Pembelajaran yang menarik akan memikat anak-anak untuk terus dan betah mempelajari Bahasa Indonesia sebagai bahasa ke-2 setelah bahasa ibu.

Beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan guru dalam pembelajaran Bahasa Indoensia, di antaranya adalah sebagai berikut:
1) Metode ceramah
Metode ceramah yaitu suatu “cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.” Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai dengan jangkauan daya beli dan paham siswa.
2) Metode diskusi
Metode diskusi adalah “cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.” Metode ini lazim juga disebut sebagai diskusi kelompok (group discussion) dan resitasi bersama (socialized recitation).
3) Metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah “cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari siswa kepada guru.”
4) Metode latihan
Metode latihan yang disebut juga metode training. Merupakan suatu cara yang baik untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan tertentu. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain itu, metode ini dapat juga digunakan untuk memperoleh suatu ketangkasan, ketepatan dan keterampilan.

5) Metode pemberian tugas
Metode pemberian tugas adalah “penyajian bahan dimana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.”
6) Metode demonstrasi
Metode demonstrasi adalah “metode mengajar dimana guru atau orang lain yang sengaja diminta atau siswa sendiri memperlihatkan kepada seluruh kelas suatu proses.”
7) Metode sosiodrama
Metode sosiodrama adalah “metode mengajar dengan mendemonstrasikan cara bertingkah laku dalam kehidupan sosial.”
8) Metode karyawisata
Metode karyawisata adalah “cara mengajar yang dilaksanakan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari/menyelidiki sesuatu.

KEAKTIFAN BELAJAR

Maret 31, 2009 - 5 Tanggapan

MENGEMBANGKAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA

Oleh: Ilham

Pentingnya Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Guru merupakan penanggung jawab kegiatan proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab gurulah yang langsung memberikan kemungkinan bagi para siswa belajar dengan efektif melalui pembelajaran yang dikelolanya. Dalam konteks ini Nana Sudjana yang dikutip Cece Wijaya dan A. Tabrani mengemukakan sebagai berikut:
Kehadiran guru dalam proses belajar mengajar atau pengajaran masih tetap memegang peranan penting. Peranan guru dalam proses pengajaran belum dapat digantikan oleh mesin, radio, tape recorder ataupun komputer yang paling modern sekalipun. Masih terlalu banyak unsur manusiawi seperti sikap, sistem nilai, perasaan, motivasi kebiasaan dan lain-lain yang merupakan hasil dari proses pengajaran, tidak dapat dicapai melalui alat-alat tersebut.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa guru memegang peranan penting terhadap proses belajar siswa melalui pembelajaran yang dikelolanya. Untuk itu guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi yang baik dengan siswa, agar mereka dapat melakukan berbagai aktivitas belajar dengan efektif.
Dalam menciptakan interaksi yang baik diperlukan profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi dari guru dalam usaha untuk membangkitkan serta mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebab segala keaktifan siswa dalam belajar sangat menentukan bagi keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran. Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya mengemukakan bahwa “proses belajar yang bermakna adalah proses belajar yang melibatkan berbagai aktivitas para siswa. Untuk itu guru harus berupaya untuk mengaktifkan kegiatan belajar mengajar tersebut.”
Selanjutnya tingkat keaktifan belajar siswa dalam suatu proses pembelajaran juga merupakan tolak ukur dari kualitas pembelajaran itu sendiri. Mengenai hal ini E. Mulyasa mengatakan bahwa:
Pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya atau setidak-tidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa percaya pada diri sendiri.

Agar siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran, maka diperlukan berbagai upaya dari guru untuk dapat membangkitkan keaktifan mereka. Sehubungan dengan pentingnya upaya guru dalam membangkitkan keaktifan siswa dalam belajar, R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan bahwa:
Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pengajaran siswalah yang menjadi subjek, dialah pelaku kegiatan belajar. Agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka hendaknya guru merencanakan pengajaran, yang menuntut siswa banyak melakukan aktivitas belajar. Hal ini tidak berarti siswa dibebani banyak tugas. Aktivitas atau tugas-tugas yang dikerjakan siswa hendaknya menarik minat siswa, dibutuhkan dalam perkembangannya, serta bermanfaat bagi masa depannya.

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka  dalam pembelajaran upaya guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa sangatlah penting. Sebab keaktifan belajar siswa menjadi penentu bagi keberhasilan pembelajaran yang dilaksanakan.

Bentuk Upaya Guru dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa

Mengajar merupakan upaya yang dilakukan oleh guru agar siswa belajar. Dalam pembelajaran, siswalah yang menjadi subjek, jadi siswalah yang menjadi pelaku kegiatan belajar. Demikian pula dalam pembelajaran, agar siswa berperan sebagai pelaku dalam kegiatan belajar, maka guru hendaknya mengondisikan pembelajaran yang menuntut siswa aktif dalam melakukan kegiatan belajar.
Beberapa bentuk upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran adalah di antaranya dengan meningkatkan minat siswa, membangkitkan motivasi siswa, menerapkan prinsip individualitas siswa, serta menggunakan media dalam pembelajaran.
1. Meningkatkan minat siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah dengan adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap belajar sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang diminatinya. Sebaliknya, tanpa adanya minat seseorang tidak mungkin akan melakukan sesuatu. Siswa yang memiliki minat yang besar terhadap suatu pelajaran akan lebih aktif untuk mempelajarinya dan sebaliknya, siswa akan kurang keaktifannya dalam mempelajari pelajaran yang kurang diminatinya. Oleh karena itu, William Jams, seperti di kemukakan Moh. Uzer Usman, yang melihat bahwa minat siswa merupakan faktor utama yang menentukan derajat keaktifan belajar siswa. jadi, minat merupakan faktor yang menentukan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.
Selanjutnya minat siswa juga berhubungan dengan perhatian siswa. Perbedaannya adalah minat sifatnya lebih menetap sedangkan perhatian sifatnya lebih sementara dan adakalanya menghilang. Dalam proses belajar siswa, perhatian memegang peranan penting. Thomas M. Risk yang dikutip Zakiah Daradjat mengemukakan “no learning takes place without attention.” Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa suatu pelajaran tidak akan berlangsung tanpa adanya perhatian dari siswa.
Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar bila siswa memiliki minat yang besar yang menimbulkan perhatiannya dalam belajar. Oleh karena itu, guru perlu membangkitkan minat siswa-siswanya agar pelajaran yang diberikan mudah dipahami sehingga mereka terlibat aktif dalam pembelajaran. Dalam hal ini R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan beberapa upaya menarik minat siswa dalam belajar, yaitu sebagai berikut:
Pengajaran perlu memperhatikan minat dan kebutuhan siswa, sebab keduanya akan menjadi penyebab timbulnya perhatian. Sesuatu yang menarik minat dan dibutuhkan siswa, akan menarik perhatiannya, dengan demikian mereka akan bersungguh-sungguh dalam belajar. Misalnya, anak-anak Sekolah Dasar sangat menyenangi cerita (dongeng). Sampai dengan kelas III mereka menyenangi cerita fantasi sedangkan anak-anak kelas IV sampai dengan kelas VI menyenangi cerita-cerita yang lebih konkret, kepahlawanan dan sebagainya. Guru dapat memanfaatkan minat dan kebutuhan ini dengan memberikan cerita-cerita yang berisi penanaman atau pengembangan nilai-nilai moral.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah juga mengemukakan upaya-upaya yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan.
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau.
c. Memberi kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik.
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar.

Kemudian Zakiah Daradjat dengan redaksi yang tidak jauh berbeda, menyebutkan beberapa usaha yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan minat siswa dalam belajar, yaitu:
a. Membangkitkan kebutuhan pada diri anak seperti kebutuhan rohani, jasmani, sosial, dan sebagainya. Rasa kebutuhan ini akan menimbulkan keadaan labil, ketidakpuasan yang memerlukan pemuasan.
b. Pengalaman-pengalaman yang ingin ditanamkan kepada anak hendaknya didasari oleh pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki.
c. Beri kesempatan berpartisipasi untuk mencapai hasil yang diinginkan. Tugas-tugas harus disesuaikan dengan kesanggupan murid. Anak yang tidak pernah mencapai hasil yang baik atau tidak pernah mendapat penyelesaian tugas-tugasnya dengan baik, merasa putus asa.
d. Menggunakan alat-media dan berbagai metode mengajar.

Beberapa hal tersebut di atas menunjukkan bahwa upaya guru dalam mengembangkan minat belajar siswa sangat penting dilakukan agar ia dapat terlibat aktif dalam mengikuti pembelajaran.
2. Membangkitkan motivasi siswa
Setiap perbuatan individu, termasuk perbuatan belajar didorong oleh sesuatu atau beberapa motif. Motif merupakan suatu tenaga yang berada pada diri siswa yang mendorongnya untuk berbuat mencapai suatu tujuan. Sedangkan motivasi menurut Muh. Uzer Usman adalah “suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk membuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu.”
Seseorang siswa yang belajar dengan motivasi kuat, akan melaksanakan semua kegiatan belajarnya dengan sungguh-sungguh penuh, gairah atau semangat. Sebaliknya, belajar dengan motivasi yang lemah, akan malas bahkan tidak mau mengerjakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pelajaran. Dengan demikian jelaslah bahwa motivasi sangat diperlukan seseorang dalam melakukan aktivitas belajar.
Tugas guru adalah membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar secara aktif. Motivasi belajar siswa dapat timbul dari dalam individu siswa dan dapat pula timbul akibat pengaruh dari luar dirinya. Motivasi yang timbul dari dalam diri siswa sendiri tanpa ada ajakan atau pengeruh dari orang lain disebut motivasi intrinsik. Sedangkan motivasi yang timbul akibat pengeruh dari luar diri siswa, apakah karena adanya ajakan, suruhan atau paksaan dari orang lain disebut motivasi ekstrinsik. Dalam konteks motivasi belajar ini, Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru, karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu fungsi motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.

Dari hal tersebut jelas bahwa dalam belajar, siswa mesti memiliki motivasi belajar yang tinggi, baik yang berasal dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru untuk membangkitkan motivasi siswa dan menjadikannya aktif dalam mengikuti pembelajaran, seperti yang dikemukan R. Ibrahim dan Nana Sayodih diantaranya, yaitu:
a. Memberikan sasaran antara. Sasaran akhir belajar adalah lulus ujian atau naik kelas. Sasaran akhir baru dicapai pada akhir tahun. Untuk membangkitkan motif belajar maka diadakan sasaran antara, seperti ujian semester, tengah semester, ulangan harian, kuis, dan sebagainya.
b. Diciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Suasana belajar yang hangat berisi suasana persahabatan, ada rasa humor, ada pengakuan akan keberadaan siswa, terhindar dari celaan dan makian, dapat membangkitkan motif.
c. Adanya persaingan sehat. Persaingan atau kompetisi yang sehat dapat membangkitkan motivasi belajar. Siswa dapat bersaing dengan hasil belajarnya sendiri atau dengan hasil yang dicapai oleh orang lain. Dalam persaingan ini dapat diberikan pujian, ganjaran ataupun hadiah.

Sementara itu Moh. Uzer Usman juga memberikan beberapa cara untuk membangkitkan motivasi ekstrinsik dalam menumbuhkan motivasi intrinsik siswa dalam belajar, yaitu:
• Kompetisi (persaingan): Guru berusaha menciptakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya dan mengatasi prestasi orang lain.
• Pace making (membuat tujuan sementara atau dekat): Pada awal kegiatan belajar mengajar, guru hendaknya terlebih dahulu menyampaikan kepada siswa TIK yang akan dicapainya sehingga dengan demikian siswa berusaha untuk mencapai TIK tersebut.
• Tujuan yang jelas: Motif mendorong individu untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan, maka besar nilai tujuan bagi individu yang bersangkutan dan makin besar pula motivasi dalam melakukan suatu perbuatan.
• Kesempurnaan untuk sukses: Kesuksesan dapat menimbulkan rasa puas, kesenangan dan kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan kegagalan akan membawa efek yang sebaliknya. Dengan demikian, guru hendaknya mampu memberi kesempatan kepada anak untuk meraih sukses dengan usaha sendiri, tentu saja dengan bimbingan guru.
• Minat yang besar: motif akan timbul jika individu memiliki minat yang besar.
• Mengadakan penilaian atau tes: Pada umumnya para siswa mau belajar dengan memperoleh nilai yang baik. Hal ini terbukti dari kenyataan bahwa banyak siswa yang tidak belajar bila tidak ada ulangan. Akan tetapi, bila guru mengatakan bahwa lusa akan diadakan ulangan lisan, barulah siswa giat belajar dengan menghafal agar ia mendapat nilai yang baik. Jadi, angka atau nilai itu merupakan motivasi yang kuat bagi siswa.

Sementara Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain dalam buku Strategi Belajar Mengajar mengemukakan enam cara yang dapat dilakukan oleh guru dalam upaya membangkitkan motivasi dan gairah belajar siswa, yaitu:
• Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar;
• Menjelaskan secara konkret kepada anak didik apa yang dapat dilakukan pada akhir pengajaran;
• Memberikan ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapat prestasi yang lebih baik di kemudian hari;
• Membentuk kebiasaan yang baik;
• Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok;
• Menggunakan metode yang bervariasi.

Sedangkan M. Sobry Sutikno juga mengemukakan beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:
a. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.
e. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
f. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.
g. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
h. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
i. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
j. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Dari beberapa cara yang telah di kemukakan para ahli di atas pada dasarnya saling melengkapi yang dapat dilakukan oleh guru dalam membangkitkan motivasi belajar siswa.
3. Menerapkan prinsip individualitas
Salah satu masalah utama dalam pembelajaran ialah masalah perbedaan individual. Seorang guru yang menghadapi 40 orang siswa di kelas, sebenarnya bukan hanya menghadapi ciri-ciri satu kelas, tetapi juga menghadapi 40 perangkat ciri-ciri siswa. Tiap orang siswa memiliki pembawaan-pembawaan yang berbeda, dan menerima pengaruh dan perlakukan dari keluarganya yang masing-masing juga berbeda. Dengan demikian adalah wajar apabila setiap siswa memiliki ciri-ciri individu sendiri. Ada siswa yang badannya tinggi kurus, atau pendek gemuk, cekatan atau lambat, kecerdasan tinggi, sedang atau rendah, berbakat dalam beberapa mata pelajaran, tetapi kurang berbakat dalam mata pelajaran tertentu, tabah, ulet atau mudah putus asa, periang atau perenung, bersemangat atau acuh tak acuh, dan sebagainya.
Berdasarkan hal tersebut, pemahaman guru terhadap setiap individu siswa sangat penting dalam upaya mengembangkan keaktifan belajar mereka. Dalam konteks ini Saiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain mengemukakan sebagai berikut:
Guru harus melakukan pendekatan dalam strategi belajar mengajarnya. Bila tidak, maka strategi belajar tuntas atau masteyr learning yang menuntut penguasaan penuh kepada anak didik tidak akan pernah menjadi kenyataan. Paling tidak dengan pendekatan individual dapat diharapkan kepada anak didik dengan tingkat penguasaan optimal.

Sementara Bloom yang dikutip oleh Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa:
Jika guru memahami persyaratan kognitif dan ciri-ciri sikap yang diperlukan untuk belajar seperti minat dan konsep diri pada diri siswa-siswanya, dapat diharapkan sebagian besar siswa akan dapat mencapai taraf penguasaan sampai 75% dari yang diajarkan. Oleh sebab itu, hendaknya guru mampu menyesuaikan proses belajar mengajar dengan kebutuhan-kebutuhan siswa secara individual tanpa harus mengajar secara individual.

Perbedaan-perbedaan individu siswa dalam aktivitas belajarnya, seperti yang dikemukakan Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasatya, terbagi dalam empat hal, yaitu “1) Waktu dan irama perkembangan, 2) Motif, intelegensi dan emosi, 3) Kecepatan belajar atau menangkap pelajaran, 4) Pembawaan dan lingkungan.” Perbedaan-perbedaan ini menyebabkan hasil belajar siswa berbeda-beda dan waktu yang diperlukan untuk memahami pelajaran yang ditentukan akan berbeda pula. Tidak terkecuali dalam pelajaran, perbedaan-perbedaan tersebut juga sangat mempengaruhi aktivitas siswa dalam belajar .
Mengingat adanya perbedaan-perbedaan tersebut, guru harus mengerti tentang adanya keragaman adanya ciri-ciri siswa, baik di dalam menyiapkan dan menyajikan pelajaran maupun dalam memberikan tugas-tugas dan pembimbingan. Dalam konteks ini R. Ibrahim dan Nana Syaodih mengemukakan beberapa prinsip individualitas yang dapat diterapkan guru dalam mengelola pembelajaran, yaitu sebagai berikut::
a. Dalam mengajar hendaknya guru menggunakan metode atau strategi belajar mengajar yang bervariasi. Sebab dengan variasi tersebut diharapkan beberapa perbedaan kemampuan anak dapat terlayani.
b. Hendaknya digunakan alat dan media pengajaran. Penggunaan media dan alat-alat pengajaran dapat membantu siswa-siswa yang mempunyai kelemahan-kelemahan tertentu. Anak yang kemampuan berpikir abstraknya kurang, dapat dibantu dengan media yang konkret, anak yang pendengarannya kurang, dapat dibantu dengan penglihatan.
c. Hendaknya guru memberikan bahan pelajaran tambahan kepada anak-anak yang pandai, untuk mengimbangi kepandaiannya. Bahan tambahan tersebut dapat berupa bahan bacaan, soal-soal yang harus dipecahkan dan sebagainya.
d. Hendaknya guru memberikan bantuan atau bimbingan khusus kepada anak-anak yang kurang pandai atau lambat dalam belajar. Bantuan atau bimbingan dapat diberikan pada jam pelajaran ataupun di luar jam pelajaran.
e. Pemberian tugas-tugas hendaknya disesuaikan dengan minat dan kemampuan anak. Misalnya anak-anak yang lebih pandai diberi tugas yang lebih banyak atau lebih sukar. Anak yang berminat akan matematika diberi tugas di bidang matematika lebih banyak sedang yang lain di bidang sosial dan IPA lebih banyak.

Sementara Gafar Daud dalam sebuah artikel berjudul Hakikat Belajar, mengemukakan beberapa upaya melayani perbedaan individual siswa, yaitu sebagai berikut:
a. Anak-anak yang tergolong cerdas akan berkembang sesuai dengan kemampuannya, dengan cara ; akselerasi dan program tambahan.
b. Pengajaran individual.
c. Penyelenggaraan kelas khusus bagi siswa yang cerdas.
d. Bagi siswa yang lamban dapat diselenggarakan kelas remedial.
e. Pengelompokan siswa berdasarkan kemampuan.
f. Pembentukan kelompok informal oleh siswa sendiri.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan di atas, maka sangat penting bagi guru untuk melayani perbedaan-perbedaan siswa sehingga memungkinkan berkembangnya potensi masing-masing siswa secara optimal dalam pembelajaran.
4. Menggunakan media dalam pembelajaran.
Media pembelajaran adalah “segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.” Media pembelajaran sebagai perantara sumber pesan dengan penerima pesan yang berperan penting dalam proses pembelajaran.
Dalam upaya untuk mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam mata pelajaran , hendaknya guru dapat menggunakan media dalam pembelajaran , di samping untuk memperjelas materi yang disampaikan juga akan dapat menarik minat siswa. Mengenai media ini Moh. Uzer Usman menyatakan:
Media pengajaran, teaching air, atau audiovisual aids (AVA) adalah alat yang digunakan guru ketika mengajar untuk membantu memperjelas materi pelajaran yang disampaikannya kepada dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pengajaran yang menggunakan banyak verbalisme tentu akan segera membosankan, sebaliknya pengajaran akan lebih menarik bila siswa gembira belajar atau senang karena mereka merasa tertarik dan mengerti pelajaran yang diterimanya.

Media pembelajaran memiliki arti yang cukup penting dalam kegiatan pembelajaran . Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan materi yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan pelajaran yang disampaikan kepada siswa dapat disederhanakan dengan bantuan media. Dengan demikian siswa akan lebih mudah menerima bahan pelajaran dari pada tanpa penggunaan media.
Nilai dan manfaat media pembelajaran sebagai berikut:
a. Meletakkan dasar-dasar yang konkret untuk berpikir. Oleh karena itu mengurangi verbalisme (tahu istilah tetapi tidak tahu arti, tahu nama tetapi tidak tahu bendanya.
b. Memperbesar perhatian siswa.
c. Membuat pelajaran lebih menetap tidak mudah dilupakan.
d. Memberikan pengalaman yang nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri di kalangan para siswa.
e. Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinu.
f. Membantu tumbuhnya pengertian dan membantu perkembangan berbahasa.
g. Sangat menarik minat siswa dalam belajar.
h. Mendorong anak untuk bertanya dan berdiskusi karena ia ingin dengan banyak perkataan, tetapi dengan memperlihatkan suatu gambar, benda yang sebenarnya, atau alat lain.

Sementara Nana Sudjana dalam Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, mengemukakan manfaat dan nilai-nilai praktis penggunaan media pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1) Dengan media dapat meletakkan dasar-dasar yang nyata untuk berpikir. Karena itu, dapat mengurangi verbalisme.
2) Dengan media dapat memperbesar minat dan perhatian siswa untuk belajar.
3) Dengan media dapat meletakkan dasar untuk perkembangan belajar sehingga hasil belajar bertambah mantap.
4) Memberikan pengalaman yang nyata dan dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri pada setiap siswa.
5) Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan berkesinambungan.
6) Membantu tumbuhnya pemikiran dan membantu berkembangnya kemampuan berbahasa.
7) Memberikan pengalaman yang tak mudah diperoleh dengan cara lain serta membantu berkembangnya efisiensi dan pengalaman belajar yang lebih sempurna.

Dalam menggunakan media pembelajaran, guru harus memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut mencapai hasil yang baik. Untuk itu hendaknya dapat memperhatikan hal-hal berikut:
a. Alat-alat yang dipilih harus sesuai dengan kematangan dan pengalaman siswa serta perbedaan individual dalam kelompok.
b. Alat yang dipilih harus tepat, memadai dan mudah digunakan.
c. Harus direncanakan dengan teliti dan diperiksa lebih dahulu.
d. Penggunaan media disertai kelanjutannya seperti dengan diskusi, analisis dan evaluasi.
e. Sesuai dengan batas kemampuan biaya.

Selanjutnya ada beberapa prinsip tentang penggunaan media atau alat audiovisual yaitu:
a. Tidak ada alat yang dapat dianggap paling baik.
b. Alat-alat tertentu lebih tepat dari pada yang lain berdasarkan jenis perhatian atau dalam hubungannya dengan tujuan.
c. Audiovisual atau sumber-sumber yang digunakan merupakan bagian integral dari pengajaran.
d. Perlu diadakan persiapan yang seksama oleh guru dan siswa mengenai alat audiovisual.
e. Siswa menyadari tujuan alat audiovisual dan merespons data yang diberikan.
f. Perlu diadakan kegiatan lanjutan.
g. Alat audiovisual dan sumber-sumber yang digunakan untuk menambah kemampuan komunikasi memungkinkan belajar lebih karena adanya hubungan-hubungan.

Berdasarkan beberapa hal yang telah di kemukakan bahwa jika guru mampu penggunaan media dalam pembelajaran secara tepat, maka hal tersebut dapat merangsang pikiran, perasaan, dan kemauan para siswa untuk belajar . Dengan demikian, maka dengan sendirinya keaktifan belajar para siswa dalam kegiatan pemberbelajaran akan meningkat pula.